Setengah Atheis
“Happy Sunday all. May God bless you all”
“Otw gereja”
“Teach me God to walk on Your way”
Setiap hari Minggu, rata-rata temen gue jadi pendeta. Wajar sih, namanya juga hari Minggu itu harinya ke Gereja. Gue juga (biasanya) pergi ke Gereja. Hari Minggu, timeline gue jadi serasa religius.
Seninnya, gue pergi sekolah. Sepulangnya, isi timeline gue seperti ini:
“Ah elah ini mbak bloon banget, udah dikasihtau juga masih aja salah”
“Woi itu guru brengsek banget sih ngasih ulangan susah-susah!”
Dari religius kemarin langsung berubah jadi maki-makian.
Sampai Semuanya Berakhir
Carl Johnson baru saja pulang setelah berkelana 5 tahun diluar San Andreas. Sepulangnya, apa yang dia dapatkan sangat tidak diinginkannya. Ibunya tewas dibunuh, keluarganya tercerai berai, dan daerahnya telah dikuasai oleh geng saingan. Suasananya sangat berubah. CJ sangat terkejut, dan dia berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan situasinya kembali seperti semula.
Jalan cerita game legendaris Grand Theft Auto: San Andreas ini mungkin mirip dengan apa yang ada di lingkungan gue saat ini. Memang keluarga gue baik-baik saja, namun lingkungan gue di sekolah sangat berbeda sepulangnya gue dari pelatihan dan Pra OSP (Olimpiade Sains Provinsi).
Hasil OSK Jakarta Barat 2012
Well, udah cukup lama sejak gue terakhir kali ngepost disini. Itupun post terakhir gue adalah tulisan gak jelas, yang mendadak muncul begitu aja di otak gue saking gilanya gue saat mikirin nilai gue yang labil dan kegilaan gue pada sepak bola.
Sebenarnya sih gue ada banyak ide untuk ditulis, dan rata-rata masalah sepak bola dan sosial budaya. IT? Gue lagi jarang utak atik hape semenjak upgrade SGS II gue ke Ice Cream Sandwich. Mungkin ada beberapa ide nanti juga, misalnya komentar gue terhadap Samsung GALAXY S III yang rumornya bakal diluncurkan tanggal 3 Mei nanti.
Nah yang jadi masalah adalah, gue punya begitu banyak target yang harus dicapai. Yang paling utama adalah nilai tentunya. Bukan berarti gue freak dan gila nilai, bukan. Ini adalah salah satu bentuk keterpaksaan *hiks* karena gue pingin kuliah di Singapura (entah di NTU atau NUS) dan mereka mensyaratkan nilai untuk bisa dipanggil tes. Nilai gue saat ini memang hampir mencukupi untuk NUS dan melampaui untuk NTU, tapi karena gue akan ikut OSN tahun ini maka nilai gue di ulangan-ulangan berikutnya bisa turun karena mesti bagi fokus.
Bagaimanapun OSN adalah salah satu alasan utama gue bela-belain ngekos biar bisa sekolah di SMAK 1. Tahun lalu, gue melakukan kecerobohan fatal saat OSP (OSN tingkat provinsi) yang menyebabkan gue gagal berangkat ke OSN 2011 Manado. Gue kecewa banget gara-gara selama pelatihan gue gak pernah keluar dari posisi yang aman buat lolos ke Manado. Makanya karena tahun ini adalah kesempatan terakhir gue, maka gak ada kata gagal dan gue harus dapet emas. Emas ini juga bisa jadi awal usaha gue untuk bisa tembus tahap internasional.
Oleh karena 2 hal ini, mungkin dalam beberapa waktu kedepan gue belum bisa menulis lagi di blog ini. Namun tenang aja, kalau ada waktu kosong, gue akan mengusahakan untuk menulis.
—————————-
Btw dalam post ini gue juga mau menyertakan hasil seleksi OSK (Olimpiade Sains Nasional tingkat Kotamadya) Jakarta Barat yang diadakan tanggal 3-4 April kemarin di SMAN 65 dan SMAN 112 Jakarta. Untuk tahun ini, sekolah gue gagal sapu bersih semua bidang seperti tahun lalu, tapi untuk bidang gue yaitu Astronomi naik jadi sapu bersih 3 besar hehehe. Semua bidang tetap dapet kuota 3 anak doang, kecuali kebumian dapet ekstra 1 karena Dovian temen gue udah pelatnas 2 pada tahun lalu jadi gak dimasukkin kuota sama Diknas. Langsung aja gak perlu panjang lebar, hehehe ini hasilnya:
Kompetisi di Sekolah dan Sepak Bola
Hari ini gue mengikuti ulangan limit trigonometri. Sebelum ulangan gue cukup yakin akan peluang gue memperoleh nilai bagus karena gue bisa ngerjain semua soal latihan dengan lancar. Ya, yakin sampai gue melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal dan… sepertinya akan remedial. Kesal banget rasanya.
Ditengah rasa kesal itu, gue sedikit teringat akan sepak bola. Iya gue memang gila bola. Gue menemukan kesamaan antara sepak bola – dalam hal ini kompetisi – dengan sekolah – khususnya persaingan. Memang tidak semua berhubungan, misalkan kita tidak perlu saling berhadapan di sekolah seperti pertandingan sepak bola, namun ada beberapa hal yang berhubungan, misalkan:
Sepak Bola Sebagai Identitas
Bagi sebagian orang yang tidak menyukai sepak bola, mereka pasti heran mengapa sepak bola di negeri ini begitu populer sekalipun tidak ada prestasi yang dicapai oleh Negara ini. Yang ada adalah ribut ribut dan ribut karena induk organisasi sepak bola kita ditunggangi oleh motif politik. Jika dibandingkan dengan olahraga lain, sepak bola begitu mendominasi. Pemberitaan di tabloid olahraga misalnya. Di tabloid bola, 70% (hitungan kasar) isi tabloid tersebut adalah berita sepak bola internasional, 15% berita sepak bola nasional, dan hanya 15% sisanya untuk olahraga lain yang sebenarnya lebih banyak. Bahkan ketika Tantowi Ahmad dan Lilyana Natsir menjuarai All England kemarin, gegap gempita di negeri ini tidak membahana seperti saat tim nasional sepak bola kita HAMPIR juara Piala AFF 2010 ataupun SEA Games 2011.
A Night at Central Park
Gue bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu di mall, kecuali kalau ada barang yang ingin gue beli. Kalau gue bisa menghabiskan waktu dengan bermain game atau sekedar ngaso di rumah/kos, gue bakal lebih memilih opsi itu. Tapi entah kenapa disaat gue gak bisa pulang ke rumah (karena ada temen gue yang ngundang ke ultahnya tapi ditunda dan gue keburu bikin janji) dan mesti standby di kos selama akhir pekan ini, gue memilih buat menghabiskan saturday night di Central Park. Padahal Olimpiade Sains tingkat Kotamadya tinggal 3 hari lagi. *gak ada kata malam minggu!*
Hidupmu Tak Sesulit Hidupnya
Tadi malam saat gue memastikan diri tidak masuk sekolah hari ini, gue iseng mencari berita di Kaskus tentang demo yang akan berlangsung di Jakarta, siapa tau aja ada info tersembunyi yang gue bisa dapatkan. Selain berita tentang demo, ada berita juga (sebenarnya bukan berita sih, tapi entah kenapa masuk berita dan politik, disticky pula) tentang Siti, bocah 7 tahun yang harus berjualan bakso demi membantu ibunya yang sudah kehilangan sang suami yang meninggal dunia karena sakit keras. Kisah tentang Siti ini pernah masuk acara Orang Pinggiran di Trans 7. Sepintas buat gue ini sudah berulang kali terekspose tentang anak yatim yang harus membantu ibunya, namun gue baca ceritanya aja terus.








